Home Merapi Kereta api koruptor dan jejak digital penyebar hoaks

Kereta api koruptor dan jejak digital penyebar hoaks

4
0
SHARE



Rangkuman foto dari berita sepanjang pekan kedua Januari 2019.


Rangkuman foto dari berita sepanjang pekan kedua Januari 2019. |


Istimewa /AntaraFoto

Kabar seputar kasus kriminalitas mendominasi ragam pemberitaan sepanjang pekan kedua Januari 2019. Dimulai dari peristiwa pembunuhan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, yang masih menjadi misteri.

Disusul dengan penetapan lima orang tersangka dalam kasus dugaan pengaturan pertandingan di kompetisi sepak bola Indonesia.

Begitu juga dengan cara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memindahkan 12 mantan anggota DPRD Malang tersangka kasus korupsi ke Surabaya dengan menyewa satu gerbong kereta api malam.

Pada pekan ini juga terungkap oknum di balik pembuat rekaman suara hoaks tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos jelang Pilpres 2019.

Selain kabar kriminal di atas, isu syarat data biometrik calon jemaah umrah dan haji yang disyaratkan pemerintah Arab Saudi juga menarik perhatian pembaca Beritagar.id sepanjang periode waktu tersebut.

Terakhir, kabar terkait intensitas guguran lava Gunung Merapi yang meningkat dalam beberapa hari terakhir juga mengundang rasa penasaran pembaca.

Untuk mengingat lagi kabar selengkapnya, sila simak rangkuman berita sepekan periode 6 Januari-11 Januari 2019 berikut ini.



Biometrik haji dan umrah


Jamaah haji menunggu jemputan setibanya di Asrama Haji Transit Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (14/9/2018).


Jamaah haji menunggu jemputan setibanya di Asrama Haji Transit Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (14/9/2018). |


Mohamad Hamzah /AntaraFoto

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak Arab Saudi terkait syarat data biometrik calon jemaah umrah dan haji.

Menurut Lukman, saat ini pemerintah Arab Saudi masih mempelajari keluhan dari Indonesia. Dia pun berharap segera ada solusi terkait masalah biometrik ini.

Data biometrik ditetapkan dalam syarat yang harus dilampirkan ke Facilitation Services (VFS) Thaseel, perusahaan penyelenggara pembuatan visa di bawah Kedutaan Besar Arab Saudi. Syarat ini diberlakukan sejak Oktober dan diresmikan pada 17 Desember 2018.

Dalam persyaratan tersebut, VFS Thaseel mengharuskan jemaah haji di setiap negara melakukan proses rekam biometrik sendiri. Hasilnya digunakan sebagai syarat pembuatan visa.

Padahal, sebelumnya rekam biometrik untuk keperluan pembuatan visa umrah dan haji hanya dilakukan begitu para jemaah mendarat di Jeddah, Arab Saudi. Prosesnya pun tidak berlangsung lama karena hanya membutuhkan waktu lima menit.

Karena itulah syarat baru ini ditolak banyak pihak, termasuk Permusyawaratan Antar Syarikat Umrah dan Haji Indonesia (Patuhi).

Sebab, banyak biro perjalanan yang melaporkan bahwa mereka menemukan kesulitanpada pelaksanaan persyaratan. Bagaimana tidak, proses rekam biometrik hanya dapat dilakukan di VFS Thaseel di Indonesia yang tersebar sebanyak 30 kantor dan hanya di kota-kota besar di Indonesia.

Di Jawa Timur, misalnya, rekam biometrik hanya bisa dilakukan di dua tempat, yakni di BG Junction Surabaya dan juga di Kantor Pos Malang. Proses pembuatannya pun memakan waktu hingga dua hari.

Karena hal ini, banyak jemaah haji yang mengalami kerugian. Mulai dari ongkos transportasi yang harus dikeluarkan untuk membuatnya, jadwal keberangkatan yang tertunda hingga tiket dan pemesanan pesawat maupun hotel yang terpaksa molor dari jadwal.


Kubah baru Merapi


Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada tanggal (29/12/2018) pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar gunung Merapi dengan jarak luncur 400 M kearah hulu Kali Gendol.


Guguran lava pijar gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (29/12/2018) dini hari. Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pada tanggal (29/12/2018) pukul 00.13 WIB terjadi guguran lava pijar gunung Merapi dengan jarak luncur 400 M kearah hulu Kali Gendol. |


Aloysius Jarot Nugroho /AntaraFoto

Intensitas guguran lava Gunung Merapi meningkat dalam sepekan terakhir. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat guguran lava sepanjang Senin (7/1/2019), mencapai 30 kali dengan jarak luncuran antara 200 hingga 600 meter.

Jarak luncuran tergolong masih aman, meski pada Jumat (4/1/2019), lava Merapi sempat meluncur 1.200 meter hingga mencapai hulu Sungai Gendol, Sleman, Yogyakarta.

Kasi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menjelaskan, jarak luncuran lava yang tidak lebih dari satu kilometer (km) biasanya hanya akan membawa material ke seputar kawah, bahkan terkadang hanya berada di dalam kawah.

Sebaliknya, sambung Agus, jika luncuran melebihi 1 km ada kemungkinan material akan sampai ke hulu sungai yang menjadi aliran lava.

Kendati demikian, Agus memastikan aktivitas Merapi saat ini belum menimbulkan ancaman bahaya. Sepekan terakhir, rerata guguran mencapai 30 kali per hari, namun tidak seluruhnya dapat terpantau karena bergantung pada kondisi cuaca.

Secara total, aktivitas kegempaan Merapi selama sepekan terakhir yakni 221 kali gempa guguran, 11 kali gempa tektonik, dan 6 kali gempa dengan frekuensi rendah. Gempa embusan tercatat 10 kali, gempa vulkanik dangkal 6 kali, dan 10 kali gempa fase banyak.

Berdasarkan pemantauan deformasi menggunakan electronic distance measurement (EDM) dan global positioning system (GPS) terpantau adanya perubahan morfologi Merapi berupa pertumbuhan kubah lava.

Volume kubah lava per 3 Januari 2019 mencapai 415.000 meter kubik dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3.800 meter kubik per hari. Pertumbuhan itu masih tergolong rendah dan stabil karena di bawah 20.000 meter kubik per hari.

Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi akibat hujan tersebut. Masyarakat diminta untuk tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa. Sebab, erupsi Merapi saat ini cenderung lebih lemah ketimbang tahun lalu.


Tersangka pengaturan pertandingan


Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignasius Indro (kanan) bersama Anggota Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Emerson Yuntho (kiri) membawa poster dukungan sebelum beraudiensi dan memberi dukungan Satgas Polri untuk Pemberantasan Mafia Sepak Bola di Krimum, Polda Metrojaya, Jakarta, Jumat (28/12/2018).


Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignasius Indro (kanan) bersama Anggota Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Emerson Yuntho (kiri) membawa poster dukungan sebelum beraudiensi dan memberi dukungan Satgas Polri untuk Pemberantasan Mafia Sepak Bola di Krimum, Polda Metrojaya, Jakarta, Jumat (28/12/2018). |


Reno Esnir /AntaraFoto

Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Kepolisian RI kembali menangkap satu tersangka lagi terkait dugaan pengaturan pertandingan di kompetisi sepak bola Indonesia. Namanya, Nurul Safarid, salah satu wasit yang memimpin pertandingan sepak bola Tanah Air.

Dengan penangkapan Nurul ini, artinya sejak pertengahan Desember 2018, Satgas telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus dugaan pengaturan pertandingan sepak bola–beken disebut match fixing.

Mereka adalah Johar Lin Eng (Anggota Komite Eksekutif PSSI), Priyanto (eks anggota Komisi Wasit PSSI), Anik Yuni Artika Sari (wasit futsal), Dwi Irianto alias Mbah Putih (Anggota Komisi Disiplin PSSI), dan terakhir Nurul.

Nurul ditangkap karena diduga menjadi aktor utama dalam pengaturan pertandingan antara klub Persibara Banjarnegara vs. Persekbapas Pasuruan di Liga 3 2018. Ditengarai, Nurul menerima Rp45 juta untuk membuat Persibara menang.

Penangkapan Nurul ini sepertinya tak lepas dari keterangan yang didapat Satgas dalam pemeriksaan keempat tersangka sebelumnya, khususnya Priyanto dan Mbah Putih. Pasalnya, aliran uang ke kantong Nurul, tak lepas dari kedua orang tersebut.

Merujuk pada keterangan Kombes Pol Agus Argo Yuwono, Nurul menerima gepokan rupiah dari Priyanto dan Mbah Putih. Mekanismenya, para pelaku mengadakan sebuah pertemuan di suatu tempat.


Kereta api rombongan tahanan korupsi


Sejumlah tahanan KPK dengan mengenakan baju tahanan menaiki kereta api dengan pengawalan petugas kepolisian menuju Surabaya di Jawa Timur, Senin (7/1/2019).


Sejumlah tahanan KPK dengan mengenakan baju tahanan menaiki kereta api dengan pengawalan petugas kepolisian menuju Surabaya di Jawa Timur, Senin (7/1/2019). |


Handout/HumasKPK /AntaraFoto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memindahkan 12 mantan anggota DPRD Malang tersangka kasus korupsi ke Surabaya. Pemindahan tersangka korupsi ini menggunakan kereta api malam dengan tempat duduk 2-2.

Dalam foto dokumentasi KPK, para tersangka mengenakan rompi oranye dan diborgol duduk dalam satu gerbong kereta api dengan dikawal oleh pengawal dari KPK dan kepolisian setempat.

Para tersangka korupsi itu dipindahkan dari Malang ke Surabaya pada Senin (7/1/2018) malam untuk mengikuti peradilan di Pengadilan Negeri Surabaya. Jaksa penuntut umum KPK melimpahkan kasus ke-12 tersangka itu ke pengadilan pada Selasa (8/1/2019)

Kedua belas orang tersangka tersebut adalah Diana Yanti, Sugiarto, Afdhal Fauza, Syamsul Fajrih, Hadi Susanto, Ribut Haryanto, Indra Tjahyono, Imam Ghozali, Mohammad Fadli, Bambang Triyoso, Asia Iriani, dan Een Ambarsari.

Pemindahan tahanan di Malang itu mengingatkan pada pemindahan narapidana korupsi dari berbagai wilayah ke Lapas Sukamiskin Bandung pada 2013.

Transportasi yang digunakan untuk memindahkan narapidana kasus korupsi tersebut antara lain menggunakan bus dan kereta api kelas eksekutif berpendingin udara serta lengkap dengan fasilitas toilet di dalamnya.

Pemindahan tahanan memang lazim dilakukan untuk beragam keperluan. BerdasarkanUndang-Undang nomor 12 tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, narapidana dapat dipindahkan untuk kepentingan pembinaan; keamanan dan ketertiban; proses peradilan; dan lainnya yang dianggap perlu seperti perawatan kesehatan serta daya muat lembaga pemasyarakatan.

Dalam peraturan turunannya, pemindahan narapidana dan tahanan dapat dilaksanakan dengan kendaraan milik lapas dan rutan/cabang rutan; kendaraan milik instansi yang menahan atau instansi lain pinjaman/bantuan; serta kendaraan umum.

Para tersangka dalam kereta di Malang itu mengenakan rompi oranye karena terjerat kasus korupsi rombongan di Kota Malang. Kasus korupsi rombongan di Kota Malang berawal dari operasi tangkap tangan KPK pada Agustus 2017 lalu.

KPK menangkap mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan (PUPPB) Pemerintah Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono, dan eks Ketua DPRD Kota Malang, Mochamad Arief Wicaksono dari PDI Perjuangan.

Arief yang saat itu merupakan ketua DPRD Kota Malang disangka menerima suap sebesar Rp700 juta dari Jarot. Suap tersebut terkait dengan pembahasan APBD-P Kota Malang tahun anggaran 2015.

Kasus suap pembahasan APBD-P terus berkembang. Dalam pemeriksaan, Arief mengatakan bahwa uang senilai Rp700 juta yang diterimanya sebagian dibagikan kepada seluruh anggota dewan. Setiap anggota dewan menerima uang dalam jumlah berbeda dari Rp12,5 juta hingga Rp17,5 juta.

Pada 21 Maret 2018, KPK menetapkan tersangka baru dalam kasus tersebut, yaitu Wali Kota Malang, Mochammad Anton dan 18 anggota DPRD Kota Malang.


Tersangka hoaks surat suara


BBP (baju oranye), tersangka kasus berita hoaks 7 kontainer surat suara di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (9/1/2019). BBP adalah tersangka keempat dalam kasus hoaks surat suara.


BBP (baju oranye), tersangka kasus berita hoaks 7 kontainer surat suara di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (9/1/2019). BBP adalah tersangka keempat dalam kasus hoaks surat suara. |


Reno Esnir /AntaraFoto

Polisi menangkap Ketua Umum Dewan Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo Presiden, BBP atas dugaan pembuatan rekaman suara hoaks tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos jelang Pilpres 2019.

Menurut Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Dani Kustoni, BBP membuat hoaks itu dalam bentuk narasi di media sosial Twitter dan WhatsApp group (WAG). Kemudian agar seolah benar-benar terjadi, BBP merekam suaranya dan menyebarkan lagi.

Dani menilai, BBP sadar perbuatannya salah, namun tetap dilakukan. Bahkan BBP berusaha menghapus jejak digital setelah berhasil memviralkan hoaks buatannya.

Setelah hoaksnya viral, tersangka yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat itu menutup akun, membuang ponsel, membuang kartu SIM dan melarikan diri ke Sragen, Jawa Tengah, Senin (7/1/2019).

Menurut penyelidikan Polri, rekaman suara yang tersebar pekan lalu dan memicu hoaks itu indentik dengan suara BBP. Polisi menilai suara yang tersebar itu 99 persen identik dengan suara BBP.

Ahli Forensik Komisaris Besar M. Nuh menjelaskan, polisi menguji dengan dua metode, yakni otomatis dan manual. Metode otomatis adalah menguji sampel suara hoaks tujuh kontainer dengan mencocokan frekuensi suara dari BBP dengan mesin pengenal suara (voice recognition).

“Dari metode ini kami mendapati kemiripan sebesar 99,2 persen. Very strong Identification,” kata M Nuh seperti dinukil dari Tempo.co.

Untuk metode manual, penyidik forensik mengambil empat sampel hoaks yang beredar di media sosial. Kemudian, frekuensi suara BBP dicocokkan menggunakan algoritma yang dimiliki Puslabfor. Hasilnya, dengan metode ini pun identik.

Atas tindakannya, tersangka dijerat dijerat Pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana lantaran sengaja menyiarkan berita bohong. Ia terancam dihukum maksimal 10 tahun kurungan penjara.

Polisi masih mendalami motif tersangka membuat hoaks tersebut. Polisi juga memburu semua penyebar hoaks tersebut.


Tersangka pembunuhan siswi SMK Bogor


Sejumlah bus antar kota antar provinsi menunggu penumpang di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (7/1/2019).


Sejumlah bus antar kota antar provinsi menunggu penumpang di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (7/1/2019). |


Yulius Satria Wijaya /AntaraFoto

Hingga kini, polisi masih mendalami motif di balik peristiwa pembunuhan terhadap Andriana Yubelia Noven Cahya (18). Siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Baranangsiang itu ditemukan tewas di gang kecil belakang Masjid Raya, Jalan Riau, Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (8/1/2019).

Namun, Kapolresta Bogor Kota Kombes Polisi Hendri Fiuser mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah cara agar pelaku lebih cepat diringkus, salah satunya adalah denganscientific identification.

“Sampai saat ini kami belum bisa mengindentifikasi pelaku, tetapi ciri-ciri pelaku sedikit banyak sudah ada gambaran. Ini yang coba kami dalami dengan langkah-langkahscientific identification,” ungkap Hendri kepada INILAH di tempat kejadian perkara (TKP), Rabu (09/01) dini hari WIB.

Scientific identification atau identifikasi berbasis sains yang dimaksudkan adalah memeriksa suatu kejadian melalui bukti DNA, sidik jari, kondisi kejiwaan, dan sebagainya.

Biasanya, untuk pemeriksaan jenis ini polisi akan melibatkan sejumlah pakar, seperti pakar kejiwaan, Psikologi Forensik dari Polda Metro Jaya, dan sebagainya.

Jika serangkaian proses tersebut membuahkan hasil, kepolisian tinggal mencocokkan hasil tersebut kepada hasil visum serta autopsi rumah sakit.

Untuk itu, polisi mendatangi dan menggeledah kamar korban dan membawa buku harian serta laptop korban untuk diteliti. Badik dan baju seragam yang ada pada kejadian juga telah dibawa untuk diperiksa.

Mereka juga mempelajari lebih lanjut tangkapan layar CCTV yang ada di lokasi kejadian. Meskipun tak begitu tajam, tapi dari sana polisi menemukan titik terang karena seorang teman korban mengenali ciri fisik pelaku dalam rekaman.

Kecurigaan polisi pun kian bertambah tatkala muncul berita soal tertangkapnya terduga pelaku dalam akun Instagram hiburan, Lambe Turah. Meski unggahan tersebut dihapus tak lama kemudian.

“Pelaku kan belum ketangkap. Nah, dia itu sempat memposting tulisan di medsosnya untuk mengonter tuduhan bahwa ia telah ditangkap. Justru, di situ jadi titik terang kita untuk masuk,” jelas Hendri, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (9/1).

Hingga saat ini polisi telah meminta keterangan dari empat orang saksi. Sementara diduga motif pembunuhan tersebut adalah dendam. Dugaan ini juga diperkuat dengan nihilnya barang pribadi korban yang hilang, seperti tas dan ponsel.






Source : https://beritagar.id/artikel/berita/kereta-api-koruptor-dan-jejak-digital-penyebar-hoaks

Berita Dari news.google.com