Home Bisnis Fintech Amartha Gandeng PrivyID Jangkau Masyarakat Pelosok Belum Tersentuh Akses Bank

Fintech Amartha Gandeng PrivyID Jangkau Masyarakat Pelosok Belum Tersentuh Akses Bank

12
0
SHARE


Merdeka.com – Dalam World Bank Globak Findex 2017 mencatat bahwa 51 persen jumlah penduduk dewasa di Indonesia tidak memiliki rekening bank atau unbanked.

Data ini menjadi perhatian industri fintech P2P (peer to peer) lending. Kehadiran fintech ini diharap bisa membantu masyarakat yang masih belum tersentuh akses perbankan.

Perusahaan fintech P2P lending, Amartha dan startup penyedia tanda tangan digital PrivyID, bekerjasama untuk mengambil tanggung jawab dalam membantu masyarakat unbanked. Kerja sama keduanya untuk menjembatani tantangan lokasi masyarakat unbanked di pelosok dan membantu untuk meningkatkan efisiensi proses peminjaman tanpa harus mengorbankan proses Know Your Customer (KYC).

“Amartha memiliki agen di 108 lokasi pelosok dengan rata-rata dua puluh ribu kontrak baru per bulan. PrivyID juga membantu kami mengurangi paper works, datanya juga masuk secara real-time dan menaikkan efiensi dan transparansi. Amartha juga ingin mencegah maladministrasi dan penipuan,” ungkap Aria Widyanto, Vice President Amartha, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11).

Yang menjadi tantangan bagi Amartha maupun startup fintech lainnya adalah menjangkau masyakarakat unbanked yang berada di pelosok, sehingga proses verifikasinya sulit. “Yang menjadi tantangan baru bagi fintech seperti Amartha adalah proses verifikasikasinya terutama pada masyarakat di pelosok,” ungkap Guritno Adi Saputri, Co-founder PrivyID.

“Amartha selama ini masih menggunakan agen di daerah dalam proses peminjaman uang. Dengan PrivyID akan mempercepat proses pinjaman uangnya karena dipermudah dalam proses verifikasi,” tambah Guritno.

Menggunakan tanda tangan digital memang selama ini terbukti dapat memangkas waktu pemrosesan dokumen dan jauh mengurangi penggunaan kertas, namun penetrasi internet yang belum merata di daerah pelosok menjadi tantangan baru.

Jumlah masyarakat unbanked yang mencapai 95 juta orang menempatkan Indonesia pada peringkat keempat sebagai negara dengan masyarakat unbanked terbesar di dunia setelah China, dan menyebabkan masyarakat itu sendiri tidak memiliki akses untuk menjangkau produk perbankan karena tidak memenuhi prasyarat kelayakan. [idr]





Source : https://www.merdeka.com/uang/fintech-amartha-gandeng-privyid-jangkau-masyarakat-pelosok-belum-tersentuh-akses-bank.html

Berita Dari news.google.com