Home Berita BERITA LENGKAP : Tsunami Langka di Selat Sunda Ilmuwan Beda Pendapat karena...

BERITA LENGKAP : Tsunami Langka di Selat Sunda Ilmuwan Beda Pendapat karena Tak Ada Gempa

6
0
SHARE


TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA — Gelombang tsunami menerjang wilayah Anyer, Pandeglang di Banten dan Lampung Selatan, Sabtu (22/12) malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan secara resmi bahwa tsunami telah terjadi dan menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, diantaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BMKG Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tsunami yang terjadi di wilayah Selat Sunda merupakan fenomena langka, karena tidak ada gempa bumi yang memicunya.

“Fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” ujar Sutopo.

Sutopo menjelaskan, tsunami yang menerjang wilayah Pantai Anyer dan Lampung Sabtu malam kemungkinan terjadi akibat longsor bawah laut, karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia menjelaskan, Badan Geologi mendeteksi pada Sabtu (22/12) pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau erupsi kembali, dan menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak.

Namun, seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus (tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan). Kemungkinan material sedimen di sekitar Krakatau‘>Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor, sehingga memicu tsunami.
“Dampak tsunami menerjang pantai di sekitar Selat Sunda. Dampak tsunami menyebabkan korban jiwa dan kerusakan,” ujar Sutopo.

BNPB menduga penyebab tsunami di Selat Sunda tadi malam yakni karena kombinasi dua faktor alam. Pertama longsoran bawah laut akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, kedua fenomena gelombang pasang karena bulan purnama.

“Kemungkinan penyebabnya adalah adanya longsoran bawah laut akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kemudian bersamaan dengan gelombang pasang karena bulan purnama,”kata Sutopo.

Menurut Sutopo tidak adanya peringatan dini yang disampaikan ke masyarakat karena BMKG belum memiliki alat pendeteksi tsunami yang diakibatkan longsoran di bawah laut maupun erupsi Gunung Berapi. Oleh karenanya, kejadian kemarin tidak terdeteksi.

“Memang sistem peringatan dini tsunami yang dibangkitkan oleh longsoran bawah laut seperti yang terjadi tadi malam juga terjadi di Palu, serta diakibatkan erupsi dari gunung yang ada di lautan belum ada. BMKG belum memiliki sistem peringatan dini,” tuturnya.

BMKG, lanjut Sutopo, baru memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dikarenakan gempa tektonik. Jika ada gempa tektonik yang berpotensi tsunami, maka dipastikan terdeteksi BMKG dan informasinya akan langsung disampaikan ke masyarakat. Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa Pandeglang menjadi wilayah yang paling parah terdampak tsunami di Selat Sunda kemarin malam. Tercatat ratusan orang meninggal akibat bencana ini.





Source : http://jateng.tribunnews.com/2018/12/25/berita-lengkap-tsunami-langka-di-selat-sunda-ilmuwan-beda-pendapat-karena-tak-ada-gempa

Berita Dari news.google.com